Please feel free to quote part or all the contents of this blog with an acknowledgment to the source of the link.

22.5.12

Oman Fathurahman: Pengembara Di Jagat Manuskrip

Kompas/Wawan H Prabowo
Rubrik Persona, Kompas, Minggu 20 Mei 2012.
Konten dikutip dari:[I:Boekoe].
---------------

Pascabencana gempa dan tsunami Aceh, ribuan orang berdatangan memberi bantuan kemanusiaan. Oman Fathurahman (43) datang menyelamatkan kitab tua.
Oman tiba di Banda Aceh 20 hari pascatsunami yang terjadi 26 Desember 2004 pagi. Ketika itu kota sesak oleh ribuan orang yang membantu evakuasi korban. Ditemani rekannya, Hasnul Arifin Melayu, Oman bersepeda motor menembus lumpur, air, dan reruntuhan. Tujuan filolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu hanya satu: menyelamatkan naskah-naskah tua yang tersisa.
Selain menewaskan lebih dari 150.000 penduduk Aceh, tsunami juga menjarah banyak manuskrip kuno. Seratusan manuskrip koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang diidentifikasi Oman pada tahun 1999, misalnya, hilang tanpa bekas. Enam puluh manuskrip di Balai Kajian Sejarah Nilai Tradisional (BKSNT) dan mungkin ribuan naskah yang ada di tangan masyarakat juga lenyap.
Manuskrip sangat penting yang lenyap, antara lain, Bajan Tajalli karangan ulama Aceh Abdurrauf al-Sinkili, Qanun al Asyi atau Undang-Undang Aceh, dan kitab hadis pertama dalam bahasa Melayu karangan Nuruddin al-Raniri berjudul Hidayat al-habib fi al-targhib wa al-tarhib.



Dokumen rencana induk Kota Banda Aceh yang dibuat Belanda juga lenyap. ”Dokumen itu sebelum tsunami tidak diizinkan untuk digandakan sehingga tidak ada salinannya sama sekali. Kini, kita hanya bisa meratapi hilangnya dokumen berharga itu,” ujar Oman.
Mengapa memilih menyelamatkan manuskrip?
Pertanyaan itu sering saya terima. Saya berusaha memberi kontribusi sesuai kapasitas, yaitu menyelamatkan kekayaan intelektual. Di Jepang ada standar, upaya penyelamatan pascabencana tidak hanya ditujukan pada manusia, tapi juga benda cagar budaya.
Belakangan, urgensi penyelamatan data manuskrip bersejarah Aceh yang kami lakukan ternyata sangat penting dan berdampak pada rehabilitasi Aceh di bidang budaya. Orang baru sadar, selain jiwa, Aceh juga kehilangan banyak manuskrip penting.
Untungnya, kami punya data lapangan dan merekamnya dengan video. Data itu segera saya sebarkan ke sejumlah lembaga internasional untuk mencari bantuan dana rekonstruksi Aceh di bidang budaya. Responsnya bagus. Tahun 2005/2006, Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) membantu digitalisasi dan katalogisasi naskah koleksi Yayasan Ali Hasjmi di Banda Aceh dan naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee.
Tahun 2005/2006 Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, mendapat bantuan dari Prince Claus Fund untuk membangun gedung perpustakaan manuskrip. Tahun 2007-2009, Leipzig University di Jerman bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) melestarikan manuskrip Aceh di Museum Negeri Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, Zawiyah Tanoh Abee, dan beberapa koleksi pribadi lain.
Tafsir gempa
Kegigihan Oman menyelamatkan kitab-kitab kuno di Aceh secara tak sengaja menguak fakta penting lainnya. Tahun 2005, ketika mendokumentasikan manuskrip di Perpustakaan Ali Hasjmy, dia menemukan kitab Takbir Gempa. Kitab anonim yang ditulis dalam aksara Arab berbahasa Melayu itu memaparkan kejadian yang akan mengikuti gempa dalam rentang waktu dari subuh hingga tengah malam dalam 12 bulan.
Disebutkan, ”… Jika gempa pada bulan Rajab, pada waktu subuh, alamatnya segala isi negeri bersusah hati dengan kekurangan makanan. Jika pada waktu duha, alamatnya air laut keras akan datang ke dalam negeri itu….”
Temuan itu menyentak Oman, juga dunia ilmu pengetahuan. Maklum, selama ini, catatan lokal tentang gempa dan tsunami dianggap tidak ada. Ternyata catatan itu ada, tetapi diabaikan. Selanjutnya, Oman berturut-turut menemukan catatan terkait gempa lainnya di daerah yang pernah dilanda gempa. Tahun 2006, Oman menemukan tulisan tangan di sampul sebuah manuskrip asal abad ke-19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang menyebutkan, pernah terjadi gempa besar untuk kedua kali pada pagi hari Kamis, 9 Jumadil Akhir 1248 Hijriah atau sekitar 3 November 1832.
Terakhir, tahun 2012, Oman menemukan naskah gempa versi Jawa di lingkungan Keraton Cirebon berjudul Kitab Lindu. ”Dalam bahasa Jawa, lindu itu berarti ’gempa’. Catatannya pendek dan hanya merupakan satu bab dari Kitab Tatamba yang arti sebenarnya berobat,” ujar Ketua Manassa itu.
Beberapa rekan Oman di Manassa juga menemukan kitab Takwil Gempa di Surau Lubuk Ipuh, Sumatera Barat. Belakangan diketahui, naskah-naskah soal gempa juga tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta dan perpustakaan di Delft serta Leiden, Belanda.
Sejauh ini, lanjut Oman, naskah gempa yang telah ditemukan umumnya berisi takwil atau tafsir hikmah atas gempa. Tafsirnya selalu dua hal, yakni mengabarkan berita baik dan buruk. Berita baiknya (gempa) ditafsir sebagai tanda akan munculnya buah-buahan dan panen padi. Berita buruknya, gempa pada waktu tertentu ditafsir sebagai tanda akan datangnya bala atau musibah termasuk menimbulkan (gelombang) air yang besar.
Oman belum menemukan kitab gempa yang isinya terkait mitigasi. ”Kalau ada itu menarik sekali. Mungkin belum ditemukan saja mengingat data digital manuskrip yang telah terkumpul belum semuanya selesai dibaca.”
Bagaimanapun, penemuan yang baru sedikit itu cukup untuk membuktikan pentingnya pendokumentasian manuskrip kuno. Jika saja, naskah tentang gempa dan tsunami di Aceh terkuak lebih cepat, lanjut Oman, barangkali masyarakat Aceh bisa memetik pelajaran dari situ sehingga bisa lebih waspada.
Rimba pengetahuan
Meski telah menemukan beberapa kitab gempa, Oman tidak berniat memfokuskan diri di situ. Pasalnya, masih banyak pengetahuan berharga lainnya yang bisa dikorek dari manuskrip Nusantara. Oman memilih memasuki jagat manuskrip apa pun sedalam mungkin ketimbang berhenti di satu tema.
”Saya sekarang ingin membabat ilalangnya dulu. Soal meneliti detailnya itu belakangan dan sambil jalan, sebab semuanya penting,” ujar Oman yang melahap manuskrip berbahasa Arab, Jawi, Melayu, Sunda dengan aksara Arab.
Pengembaraan di rimba manuskrip membuka mata Oman tentang banyak hal. Salah satunya tentang posisi kultural-politik ulama kita di kawasan yang sekarang bernama ASEAN. Sejak dulu, kata Oman, wilayah yang kini bernama Indonesia menjadi rujukan pengetahuan regional. Ini bisa terlihat dari jaringan ulama di masa lalu.
”Mungkin Anda tahu disertasinya Pak Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Jakarta) yang memetakan jaringan ulama Nusantara. Filipina Selatan tadinya belum terhubungkan dengan Nusantara. Namun, manuskrip yang kami temukan di Mindanao menyebut, guru ulama Mindanao adalah Syeh Abdul Qahhar al-Bantani dari Banten.”
Berarti ada hubungan keilmuan antara Nusantara dan Mindanao. Temuan ini diperkuat dengan keberadaan naskah di Perpustakaan Nasional yang ditulis Abdul Majid Al-Mindanawi di Aceh zaman Mahmudsyah. ”Dugaan saya, ulama Mindanao itu belajar ke Aceh, kemudian menulis di sana, sekitar abad ke-19.”
Terakhir di Keraton Cirebon, ada naskah yang menyebutkan, Abdul Qahhar al-Bantani pernah menjadi guru bagi ulama tarekat Syattariah di Cirebon. ”Jaringannya bertambah lagi menjadi Aceh, Banten, Mindanao, Cirebon. Jadi, kita ini kurang apa dalam konteks peradaban. Itu, kan, hampir sama dengan Mekkah dan Madinah yang jadi rujukan negara-negara lain.”
Dengan mengkaji manuskrip, lanjut Oman, kita bisa merekonstruksi kejayaan Nusantara dan khazanah keilmuan nenek moyang kita. Sayangnya, ilmu filologi yang mengkaji manuskrip belum begitu populer di Indonesia sehingga kejayaan lama itu belum banyak terkuak.
Mengapa bisa begitu?
Kajian pernaskahan Nusantara sebenarnya dikembangkan sejak abad ke-19 oleh sarjana kolonial. Sayangnya, arahnya sebatas menerjemahkan dan menyunting teks sebab tujuan mereka adalah mempelajari bahasa. Sampai tahun 1980-an juga masih begitu.
Kalau pekerjaannya hanya menyunting, itu tidak menarik. filolog seperti juru masak. Ada naskah, ada teks, dia transkripsi, tugas selesai. Siapa pembacanya? Para sejarawan, yang mengonsumsinya untuk merekonstruksi sebuah konteks.
Ketika saya memperkuat kajian filologi di UIN awal 2000-an, saya tidak ingin filolog sebatas juru masak. Dia harus jadi penikmat dan pemberi konteks juga. Kalau Anda menemukan naskah gempa, jangan hanya berkata, ini nih naskah gempa. Lebih baik tulis lengkap dan berikan konteksnya. Jangan menganggap teks itu mati dan hanya bisa diterjemahkan. Teks itu bisa dibunyikan kalau diberi konteks.
Awalnya banyak yang menentang karena menganggap kegiatan filologi sebatas menyunting. Sekarang justru ada tren di perguruan tinggi agama Islam, tesis filologi diberi konteks.
Tuntutannya jadi multidisiplin, ya…
Benar, studinya jadi teks, interteks, hermeunetik, dan sebagainya. Filologi itu buat saya sekadar alat untuk masuk ke jagat manuskrip.
Print This Page

Read More......

10.3.12

Aceh, Banten, dan Mindanao

Artikel ini terbit di Republika, Jumat, 8 Maret 2012

Ilustrasi foto: halaman naskah rusak di Zawiyah Tanoh Abee Aceh.

Oman Fathurahman
Dosen FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Umum Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara)

Siapa mengira bahwa seorang ulama penting Kesultanan Banten pada abad ke 18, Abdullah bin Abdul Qahhar al-Bantani, adalah ternyata guru intelektual bagi sejumlah ulama Mindanao, Filipina Selatan pada masa lalu? Dan siapa sangka bahwa bagi Muslim Mindanao, Aceh pernah menjadi kiblat keilmuan Islam sejak ratusan tahun lalu?

Nyatanya, begitulah yang terekam dalam beberapa manuskrip Islam Melayu di Marawi City, sebuah Kota berpenduduk 90% Muslim di Pulau Mindanao, yang baru terungkap setelah ratusan tahun terkubur dalam sejarah masyarakat Melayu di wilayah ini.

Perjalanan udara dan darat yang cukup melelahkan dari Manila ke Kota Marawi City pada Sabtu (25/2) lalu seakan terbayar ketika saya bersama Sejarawan Sophia University, Profesor KAWASHIMA Midori, dan Ervan Nurtawab dari STAIN Jurai Siwo Metro Lampung akhirnya dapat membuka-buka 12 manuskrip Islam berbahasa Melayu yang teronggok tak terawat dalam karung plastik di Shiek Ahmad Basher Memorial Research Library, Jamiat Muslim Mindanao di Matampay, Marawi City, Filipina.

Sehari sebelumnya, Alim Usman Imam membawa kami ke Maktabat al-Imam Assadiq, Masjid Karbala, tempat tersimpannya 49 manuskrip Islam Melayu dan Arab warisan Haji Muhammad Said, atau Sayyidna, seorang ulama pengembara abad 19 asal Magonaya Mindanao yang pernah singgah di Borneo, Lingga, Johor, dan Palembang, sebelum 7 tahun belajar di Haramayn.

Kondisi manuskrip di tempat ini sudah lebih tertata berkat ‘sentuhan’ filolog dari Universitas Indonesia, Tommy Christomy, yang berkunjung beberapa tahun sebelumnya bersama KAWASHIMA Midori.

Jaringan yang Terlupakan
Sejauh ini, Jaringan Ulama Azyumardi Azra (1994) dianggap sebagai kajian terlengkap saling silang hubungan keilmuan antarulama Melayu-Nusantara dengan Haramayn. Tapi, keterlibatan ulama Melayu-Mindanao ternyata masih luput dari pengamatannya, mungkin karena sulitnya akses terhadap khazanah naskah Melayu di wilayah konflik ini.

Menyimak lembar demi lembar manuskrip yang hampir seluruhnya berbahasa Melayu dan Arab tersebut, membawa saya pada satu asumsi bahwa hubungan keilmuan antara Muslim Mindanao dengan ulama-ulama Nusantara di Aceh dan Banten telah terjalin cukup kuat pada masa lalu.

Salah satu manuskrip tasawuf berjudul Sayyid al-Ma’arif karangan ulama Mindanao, Syekh Ihsan al-Din, misalnya menyebutkan “…bahwasanya Syekh kita, Syekh Haji Abdullah ibn Abdul Qahhar al-Syattari al-Syafi’i Banten telah mengambil Tarekat al-Syattari jalan kepada Allah…” Seperti kita mafhum, Abdul Qahhar al-Bantani yang disebut sebagai ‘Syekh kita” itu adalah mursyid Tarekat Syattariyah pada masa Sultan Zain al-Asyiqin, penguasa Kesultanan Banten abad ke-18.

Nama-nama guru yang disebut dalam silsilah ulama Mindanao ini ujung-ujungnya ternyata juga terhubungkan kepada Ahmad al-Qusyasyi, guru bagi ulama Aceh terkemuka abad ke-17, Abdurrauf al-Jawi al-Sinkili.

Bukti hubungan intelektual Muslim Maranaos dengan Aceh juga dapat ditemukan dalam beberapa manuskrip koleksi Shiek Ahmad Basher di Jamiat Muslim Mindanao, yang antara lain menyebut kitab tasawuf Umdat al-muhtajin karya al-Sinkili dan kitab hadis Hidayat al-Habib fi al-Targhib wa al-Tarhib karya Nuruddin al-Raniri sebagai rujukan dalam karya-karyanya.

Bahkan, di Perpustakaan Nasional Jakarta kita menjumpai sebuah naskah Melayu ML 361 berjudul Bidayat al-Mubadi ‘ala ‘Aqidat al-Mubtadi karangan “…Abdul Majid Mindanawi pada nama negerinya, Syafi’i pada mazhabnya..”. Di akhir halaman, Abdul Majid menjelaskan bahwa ia menulis karyanya ini fi balad al-Asyi (Aceh) pada hari Jumat, 6 Rajab masa Pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1767-1787), pewaris tahta dari Sultan Johan Syah.
Bisa jadi, Abdul Majid pernah belajar langsung kepada ulama-ulama terkemuka di Aceh masa itu, dan cukup dekat dengan kalangan istana.

Akses dan Konflik
Sulitnya akses terhadap bukti-bukti tertulis sejarah Melayu Islam di Mindanao memang menjadi masalah tersendiri. Konflik etnis dan politis yang berlarut-larut mengakibatkan setiap orang cenderung curiga dan hati-hati kepada setiap pendatang.

Andai tidak ditemani Alim Usman Imam, alumni Universitas Al-Azhar yang sangat mengagumi Soekarno itu, tak terbayangkan kami dengan mudah bisa melewati puluhan titik Checkpoint yang dikawal tentara dengan senjata berlaras panjang ini.

Akses terhadap jejak-jejak intelektual Muslim di bagian lain Melayu-Nusantara pun kini telah terbuka. Bukan hanya Koleksi Haji Muhammad Said dan Shiek Ahmad Basher saja, melainkan juga koleksi-koleksi lain yang mulai terkuak, seperti Koleksi Guro sa Masiu, Ismael Yahya, Nuska Alim, Abdulmajeed Ansano, Guro Alim Saromantang, dan Sheikh Abdul Ghani.

Manuskrip di Marawi City adalah representasi sejarah dan identitas Muslim Melayu Maranos. Jika tidak ada tindakan cepat untuk melestarikan dan kemudian mengkajiya, ia sangat rapuh dan akan segera musnah dari memori kolektif kita.

Irina Bokova, Direktur Jendral UNESCO saat terbakarnya hampir 70% koleksi Manuskrip the Institute of Egypt akibat konflik dan gejolak politik di Kairo mengatakan: “…this is an irreversible loss to Egypt and to the world…these manuscripts represent the history and identity of a people. I call for light to be shed on the causes of the fire, and for serious measures to be taken quickly to save what can be saved…” (UN News Centre, 20/12/11).

Masyarakat Muslim Maranaos kini sudah hampir tidak mengenal lagi bahasa Melayu yang 200 tahun lalu menjadi bahasa intelektual leluhurnya, padahal salah satu manuskrip dalam Koleksi Shiek Ahmad Basher berisi pernyataan penulisnya bahwa ia sangat bangga dan telah berusaha keras menulis menggunakan bahasa Melayu agar terhubungkan dengan masyarakat Muslim lain di Nusantara, meski bahasa ibunya sendiri adalah Maranao.

Print This Page

Read More......

16.1.12

Gempa, Manuskrip, dan Pemilukada di Aceh

Versi lebih ringkas tulisan ini terbit di Koran Republika, Sabtu 14 Januari 2012.

Foto oleh Tim TUFS-MANASSA-PKPM: catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006.

---------------
Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7.1 skala Richter dan berpotensi tsunami di Aceh itu mengguncang pada Rabu (11/1-2012) pukul 01.36 WIB, dan membuat saya terbangun. Itu adalah malam pertama para tamu dari dalam dan luar negeri mendarat di Banda Aceh untuk sebuah international workshop bertemakan “From Anatolia to Aceh: Ottomants, Turks, and Southeast Asia” pada dua hari berikutnya. Workshop ini diselenggarakan oleh International Center for Aceh and India Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan British Institute at Ankara, ASEASUK, dan Pemerintah NAD.

Topik gempa besar di Aceh yang sempat membuat kepanikan, terutama di Meulaboh, itu kemudian menghiasi obrolan kami saat sarapan pagi dan setiap coffee break, mulai dari obrolan ringan belaka sampai dikaitkan dengan kajian akademis. Fiona Kerlogue dari the Horniman Museum, Inggris, mengaku shock dan tidak bisa tidur sampai malam berikutnya, meski KAWASHIMA Midori dari Sophia University, Tokyo tampak tenang-tenang saja, mungkin karena di Jepang biasa terjadi gempa yang lebih besar…☺

Anthony Reid, sejarawan senior tentang Asia Tenggara dari Australian National University (ANU), adalah salah seorang yang paling bersemangat membicarakan sejarah dan antropologi gempa, terkait rencananya menulis artikel terkait topik tersebut. Menurutnya, berbeda dengan di Jepang, tradisi pencatatan dan dokumentasi sejarah gempa di Nusantara tidak terlalu baik, sehingga cukup sulit mengetahui siklus gempa yang terjadi di Nusantara ratusan tahun lalu.

Saya beruntung memiliki sejumlah informasi terkait gempa dari sumber primer berupa manuskrip-manuskrip tulisan tangan abad 18 dan 19, yang tercecer dan terhimpun secara tidak sengaja selama bertahun-tahun menekuni bidang kajian manuskrip Nusantara, dan atas kebaikan kawan-kawan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di lapangan, terutama kawan-kawan di Aceh dan Minangkabau.

Bersama Azyumardi Azra dan teman-teman di Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM), saya membincangkan kejayaan plus kekayaan manuskrip Nusantara kita itu di warung kopi Banda Aceh, kaitannya dengan kajian Islam (Islamic studies).

Dari berbagai goresan tangan orang terdahulu di Nusantara, wilayah Nusantara, khususnya Aceh, Minangkabau, dan sekitarnya sepertinya memang menjadi wilayah langganan gempa.

Dalam sebuah manuskrip asal abad 19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, terdapat catatan dalam bahasa Arab berbunyi: “wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumad al-akhir sanah 1248 min hijrah al-nabawiyah…”. Catatan tersebut menunjukkan pernah terjadi gempa besar untuk kedua kalinya pada pagi hari Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M (Fathurahman dkk 2010: xx).

Bukti lain seringnya terjadi gempa di bumi kita pada masa lalu adalah dijumpainya sejumlah manuskrip tentang “takwil gempa” dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi, seperti manuskrip Tabir Gempa di Perpustakaan Ali Hasjmy, Banda Aceh (Fathurahman & Holil 2007: 274-275), Ramalan Tentang Gempa di Perpustakaan Nasional Jakarta (Behrend [ed.] 1998: 291), dan Takwil Gempa di Surau Lubuk Ipuh, Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Kearifan Lokal Takwil Gempa
Ternyata, menurut orang-orang tua terdahulu, setiap gempa yang terjadi sebetulnya membawa pesan tertentu bagi umat manusia, entah itu pesan menggembirakan atau sebaliknya.

Salah satu bagian dari manuskrip Takwil Gempa asal abad 19 Surau Lubuk Ipuh di atas, yang sudah dikaji oleh Zuriati dkk (2008), misalnya menjelaskan bahwa: “…dan jika pada bulan Dzulqadah…dan jika pada waktu duha, alamatnya bala [musibah] banyak akan datang ke dalam negeri itu…”. Seperti kita ketahui, gempa dan tsunami di Aceh, yang menewaskan hampir 200 ribu korban jiwa, terjadi pada Minggu pagi waktu duha, 26 Desember 2004, atau 14 Zulkadah 1425 Hijriah!

Saya meyakini bahwa itu bukan malapetaka, apalagi azab sang Pencipta, melainkan musibah kemanusiaan akibat peristiwa alam yang terjadi di luar kehendak dan kontrol manusia!

Dengan hati berdebar-debar, saya lalu mencoba menyimak bagian lain “ramalan” gempa dalam manuskrip tersebut, seraya menghubungkannya dengan gempa 7.1 SR pada Rabu, 16 Safar antara waktu Isya dan Subuh lalu di Nanggroe Aceh Darussalam.

Saya agak gemetaran karena takwil gempa pada bagian itu berbunyi: “…dan bergerak gempa pada bulan Safar…jika pada waktu Isya alamatnya bala [musibah] akan datang ke negeri itu…”! Apakah itu artinya akan ada bala baru di Aceh dan sekitarnya? Semoga tidak! Peringatan dini datangnya tsunami pun sudah dicabut dua jam setelah gempa.

Sekali lagi, semua yang tertulis dalam kertas Eropa berusia ratusan tahun tersebut memang bukan sebuah ramalan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Saya sendiri ingin melihat takwil itu sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom) leluhur kita saja, yang ingin mengingatkan anak cucunya agar hidup lebih baik, bukan sebagai sesuatu yang niscaya terjadi.

Akan tetapi, kawan saya, Jajang Jahroni, mengingatkan bahwa tidak sepatutnya kita selalu menghadapkan secara dikotomis antara kearifan lokal tradisional dengan pengetahuan ilmiah modern (science) yang menurutnya terkadang juga mengandung pseudo-science. Ibarat cireng (Sunda: aci digoreng) yang sekarang ini bisa saja berdampingan dengan sphageti di Supermarket….!

Takwil Gempa dan Pemilukada Aceh
Masalahnya, terlepas dari adanya gempa atau tidak, situasi mutakhir menjelang Pemilukada di Aceh pun membuat kita was-was, apa yang akan terjadi jika penembakan misterius terus terjadi dan situasi politik terus memanas?

Mata saya pun terus bergerak mengamati transkripsi teks Takwil Gempa yang dibuat oleh Yusri Akhimudin, Dosen STAIN Batusangkar yang sedang studi lanjut di konsentrasi Filologi di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, untuk mencari tahu kearifan lokal apa yang mungkin “dititipkan” oleh nenek moyang kita agar terhindar dari bala yang “diramalkan” itu.

Sang pengarang ternyata menulis demikian: “…maka haruslah kita memakai pakaian yang suci-suci dan memakai bau-bauan yang harum-harum supaya dijauhkan Allah ta’ala akan bala daripada tubuh kita…”.

Kita bisa menafsirkan sendiri, apa yang tersirat dari “kesucian pakaian dan kebersihan badan” yang dipersyaratkan oleh leluhur kita agar terhindar dari bala yang mungkin terjadi tersebut. Mungkin mereka juga menginginkan agar pakaian dan tubuh kita tidak dikotori oleh pertengkaran, perebutan kekuasaan, korupsi, dan nafsu duniawi belaka. Wallahu a’lam.

Print This Page

Read More......

18.11.11

Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts

PPIM UIN Jakarta, on behalf of Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Ministry of Religious Affairs proudly presents the 'trial version' of the Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (TIIM). The full version will be officially launched by the Ministry soon.

The TIIM is an online database designed by the Islamic Manuscript Unit (ILMU), Center for the Study of Islam and Society (PPIM), Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) under supervision of Dr. Oman Fathurahman, and fully supported by the Center for Research and Development of Religious Literatures (Puslitbang Lektur Keagamaan), Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA).

The TIIM gets supports from experts and researchers specializing in Indonesian manuscripts officially affiliated with the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA).

The TIIM is mainly intended to provide information for both public and academic community on Indonesian Islamic manuscripts as complete as possible, written both in Arabic and local languages like Acehnese, Buginese, Javanase, Madurese, Malay, Minangkabau, Sasak, Sundanese, Wolio and others used in a written literary tradition in Indonesia.

The TIIM also provides some other useful information like the author names with their biographical accounts, number of copies kept in all libraries around the world, catalogues that list the related manuscripts including their pages and summaries, and all the articles and books about them.

The TIIM shows an even greater importance with the availability of information about the conducted, as well as the ongoing, philological works. If possible, these works are digitally available and could be downloaded. It is hoped that not only can it avoid unnecessary repetition in studying these texts but also fill the gaps found in the previous studies.

Considering a huge number of Indonesian Islamic manuscripts kept around the world, mounting to hundred thousand manuscripts or even more, as it is thought, the TIIM is definitely a lifetime project in which all data will be continuously revised and completed in accordance with the research findings in the future.

If you have any research data and information should be included in the database, please contact Dr. Oman Fathurahman (omanwae@gmail.com). Any comments and advices are welcome.

Here is the link:
http://tiim.ppim.or.id/


Print This Page

Read More......